The Devil's Playground

The Devil's Playground

A powerful drama relating the intimate aspect of teenage boys and their priest/educators behind the walls of a religious institution where rigid discipline backfires natural feelings are deemed unnatural acts and human lives are controlled in the names of good intentions

The Devil's Playground' is an intimate portrait of Tom, a thirteen-year-old struggling in spirit and body with the constraints of living in a Catholic seminary. It is also the story of the Brothers and how they cope with the demands of their faith. . You can read more in Google, Youtube, Wiki

LinksNameQualitySeedersLeechers

The Devil's Playground torrent reviews

Brian T (ru) wrote: Terrible voice overs, bad dialogue, bad script, bad acting, schizophrenic editing, this one has it all. I predict this might win for the lowest rated movie on the meter. The electrical conduit straight from the hardware store on the outside of the "uniforms" gave me laugh for a couple of seconds and one of the explosion effects was done well...other than that it was a total waste of my time. This is the type of movie that gives scifi a bad name.

Joseph L (gb) wrote: There was a lot of tension, but only certain parts were scary (inconsistent), and the plot/twist at the end makes understanding this movie hard to do.

Sara G (nl) wrote: probably the worst characters and plot i've seen for a while.

James W (us) wrote: This film was excellent. I liked the experiments with the narrative and the chatroom. This is a film that should be watched multiple times. The soundtrack is amazing as well.

miruna (au) wrote: off-putting montages. writing also off at times. i liked her, and them

Steve S (de) wrote: ***Due to the recent RT changes that have basically ruined my past reviews, I am mostly only giving a rating rather than a full review.***

Pattie C (gb) wrote: Strange, strange film. Sort of embarrassing really.

Calvin C (jp) wrote: Pure 90s cheesiness, but just like the show, only with a budget. The villain is fun and silly, which makes this a fun kids movies and a treat for fans of the show.Grade: B-

Brad W (ag) wrote: Expanding on his short film, this becomes a metafiction as Jittlov chronicles his own efforts to make it in a cute Hollywoodsy way. The best human speedster effects you'll ever see, no mater what advances CGI makes.

WS W (kr) wrote: Jack Nicholson x Meryl Streep in this not very appealing flick.

Nicolas L (au) wrote: Tout ceci est finalement bien maladroit. Ca fait neanmoins plaisir de voir naitre le style Mc Tiernan, qui est deja bien la par moments, par quelques raccords et autres travellings bien sentis... une curiosite.

Nathan M (it) wrote: I'm more familiar with the Clock Tower games that drew inspiration from this film, but it still maintains a quite creepiness that works well.

Ferry Andoni A (ag) wrote: Director & Screenplay: Hector BabencoBased on Book: Jose LouzeiroCast:Fernando Ramos da Silva " PixoteJorge Juliao " LilicaGilberto Moura " DittoEdilson Lino " ChicoZenildo Oliveira " FumacaMarilia Pera " SueliElke Maravilha " DeboraTony Tornado " CristalJordel Filho - SapatoPixote menjadi wakil ribuan anak jalanan Brasil (dan bahkan mungkin dunia) yang menjadi korban dari segala keterpurukan kehidupan masyarakat Brasil. Korban dari orang tua yang tanpa tanggung jawab penuh memutuskan memiliki anak. Korban dari kemiskinan yang menguasai hampir semua taraf hidup masyarakat kelas bawah. Korban dari ketidakpedulian Pemerintah memberikan kesejahteraan untuk penduduknya. Korban dari rangkuman segala ketidakberdayaan dan ketidakpedulian semua pihak pada anak-anak yang lahir tanpa orang tua yang jelas, tanpa taraf hidup yang baik dan tanpa pendidikan yang memadai. Bahkan instansi yang disediakan untuk mengembalikan anak-anak jalanan pada masyarakat dengan memberikan bekal pendidikan justru menjadi tempat penyiksaan dan perangkap yang hanya menguntungkan para sipir dan polisi kotor.Pixote dibuka dengan sebuah dokumenter pendek tentang bagaimana kondisi kehidupan masyarakat miskin di Sao Paulo, yang kemudian berakhir dengan profile Fernando Ramoas da Silva yang memerankan Pixote. Fernando adalah anak asli kawasan kumuh Sao Paulo. Pixote kemudian membawa penontonnya pada sebuah lembaga permasyarakatan khusus anak-anak dibawah 18 tahun yang memang sengaja didirikan untuk membentuk pribadi-pribadi anak-anak jalanan dengan bekal pendidikan. Melalui sebuah operasi, Pixote tertangkap dan digiring untuk menjadi penghuni lapas khusus ini. Bersama Pixote tertangkap juga Lilica (Jorge Juliao) seorang pemuda berusia 17 thn yang merasa terjebak dalam tubuh lelaki, ada juga Fumaca (Zenildo Oliveira), Dito (Gilberto Moura) dan Chico (Edilson Nino) yang kemudian menjadi karakter-karakter central dalam kisah hidup Pixote selanjutnya.Tetapi bukan ~perbaikan(TM) yang mereka terima dalam lapas ini. Sapato (Jordel Filho) yang menjadi kepala para sipir Lapas begitu semena-mena, bertindak kasar dan keras membentuk anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang penuh kebencian. Mereka dituduh melakukan kesalahan-kesalahan dan tindak kriminal yang tidak pernah mereka lakukan. Bahkan entah untuk alasan yang tidak begitu jelas beberapa anak termasuk Pixote dipaksa untuk menjadi tersangka sebuah kasus kejahatan dan beberapa diantara mereka bahkan ditembak mati tanpa alasan. Termasuk yang dialami Fumaca yang cukup dekat dengan Pixote. Fumaca ditemukan di sebuah tempat pembuangan sampah dari keadaan sangat menyedihkan dengan luka disekujur tubuhnya. Untuk menutupi tindak kejahatan yang dilakukan oleh pada Polisi kotor ini, pihak pengurus Lapas membuat cerita bohong tentang perkelahian diantara para penghuni lapas dan mengorbankan salah satu penghuni lapas sebagai tersangka yang kemudian berakhir dengan kematiannya.Atas dasar kemarahan yang memuncak Lilica mengerahkan semua anak-anak untuk melakukan pembakaran terhadap fasilitas Lapas tersebut. Hal ini memberikan kesempatan mereka untuk bisa kabur dari lapas tersebut. Bersama Lilica, Pixote, Chico dan Dito memulai hidup baru mereka dijalanan Sao Paulo dan bercita-cita untuk bisa segera ke Copacabana, Rio de Janeiro. Hidup dikota besar tidaklah mudah bagi mereka. Untuk menyambung hidup mereka berkelompok menjambret para pejalan kaki dan terlihat banyak uang. Sampai kemudian mereka bertemu dengan Cristal (Tony Tornado) yang mempercayai mereka untuk menjadi penyalur kokaiin dari Sao Paulo ke Rio de Janeiro. Petualangan mereka menjual obat bius berakhir dengan kisah menarik dengan Sueli (Marilia Pera) seorang pelacur tua di Rio de Janeiro, yang kemudian justru mengubah dan menghancurkan persahabatan mereka untuk selamanya.Babenco dengan gamblang mempersembahkan sebuah kisah dokudrama yang jujur dan apa adanya. Tanpa perlu dramatisasi yang berlebihan dengan realita nyata dihadirkan mendekati keadaan yang sedang dihadapi oleh Brasil pada saat itu dan bahkan hingga saat ini. Kejujuran yang dihadirkan film ini menguliti Pemerintah Brasil saat rilis tahun 1981, karena tanpa basa basi sebuah lembaga permasyarakatan untuk anak-anak terlantar dan bermasalah justru semakin memberi masalah berat bagi anak-anak itu sendiri. Sistem dan program yang diharapkan berjalan dengan baik justru sebaliknya. Sumberdaya manusia yang dipercaya untuk mengelola tempat ~perbaikan(TM) tersebut justru menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan mereka untuk kepentingan sendiri. Bahkan hal ini menjadi endemik karena hingga sekarang permasalahan ini masih menjadi momok di Brasil (bisa dilihat film Quero (2007) yang juga berkisah hampir sama dengan film ini).Detail paling menyedihkan adalah bahwa film ini telah dibuat hampir dua puluh lima tahun yang lalu. Film ini menjadi semacam catatan sejarah/dokumen dunia untuk kemiskinan dan kebejatan dan pahitnya lagi kondisi yang sama masih menjadi masalah yang sama sampai sekarang, mungkin hanya berubah sedikit saja. Satu hal yang cukup menarik dari film ini adalah bagaimana wajah Pixote seperti mengalami perubahan menjadi semakin tua? dan tua? menuju ending film. Entah bermaksud untuk memberikan pengertian bahwa Pixote dipaksa dewasa karena tinggal dijalanan menghadapi beratnya hidup.Banyak sekali adegan brutal dan menyentuh yang dihadirkan Pixote. Bahkan terkadang terasa begitu miris dan pahit. Seperti saat Lilica dan Pixote menyanyikan sebuah lagu sendu tentang cita-cita sambil memandang kearah Copacabana. Atau ketika Pixote yang begitu mendambakan seorang ibu dibiarkan oleh Sueli menyedot putingnya. Tidak ada tendensi seksual, yang ada hanya seorang bocah yang haus akan perhatian dan rindu akan kasih sayang seorang ibu. Sungguh menyedihkan!Yang menjadikan film ini semakin terasa sangat nyata adalah bagian akhir film yang dibuat tanpa ada embel-embel sad ending atau happy ending. Film dibiarkan berjalan menuju akhirnya sendiri mengikuti kemana kisah hidup Pixote akan membawanya. Tidak ada yang diselesaikan dalam film ini karena hidup terus berjalan. Pixote harus terus menemui puing demi puing jalan hidupnya tanpa bisa banyak kompromi. Bagian kisah film ini hanya menjadi sekelumit kisah hidup Pixote yang direkam dan Pixote terus berjalan menapaki jalan mencari kisah-kisah hidup selanjutnya.Delapan tahun setelah film ini rilis, pemeran Pixote, Fernando Ramos da Silva ditemukan tewas. Menjadi sebuah pembuktian bahwa kerasnya hidup yang dijalani oleh Fernando yang memang adalah anak jalanan asli Sao Paulo. Kisah Pixote? berakhir pahit dengan kematiannya. Sebuah film dari sutradara Jose Joffily dipersembahkan utk kematian Pixote produksi 1997 dengan judul Who Killed Pixote.Pixote dinominasikan film berbahasa asing terbaik Golden Globe 1982. Menerima penghargaan film terbaik dari Boston Society of Film Critics Awards, Los Angeles Film Critics Association Awards dan New York Film Critics Circle Awards.

Sage H (ca) wrote: A good film that differentiates itself from most of Clint's other movies. It combines a great thriller, intriguing storyline, and well put together cast with some beautiful mountain climbing scenes.

Sylvester E (it) wrote: A true masterpiece from start to finish.